Masih adakah “Persatuan dan Kesatuan”?

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti bangsa yang Berbeda-beda tetapi tetap “satu”, kata “satu” berarti Utuh dan tak terpecah , bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaannya adalah dengan semangat gotong royong dan saling membantu satu dengan yang lainnya saat melawan penjajah akan tetapi saat ini masyarakat Indonesia bergotong royong untuk melawan suatu kelompok yang mereka anggap sebagai penjajah dan mereka menginginkan “kemerdekaannya Sendiri” , Mungkin Perkataan pahlawan Indonesia benar “Perjuanganmu lebih sulit dari Perjuanganku, Perjuanganku melawan Penjajah , Perjuanganmu melawan Bangsamu Sendiri”, perkataan yang lain saat salah seorang tokoh mengatakan “perlawanan yang sulit adalah melawan dirimu sendiri” sama halnya dengan bangsa Indonesia yang sedang melawan bangsanya sendiri, akan cukup sulit bagi Bangsa ini untuk mencari solusinya.

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa majemuk, ditandai dengan banyaknya etnis, suku, agama, budaya, kebiasaan, di dalamnya. Di sisi lain, masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat multikultural, masyarakat yang anggotanya memiliki latar belakang budaya (cultural background) beragam.

Dalam konteks membangun masyarakat multikultural, selain berperan meningkatkan mutu bangsa agar dapat duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain, pendidikan juga berperan memberi perekat antara berbagai perbedaan di antara komunitas kultural atau kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang budaya berbeda-beda agar lebih meningkat komitmennya dalam berbangsa dan bernegara.

Tentunya, sejak proklamasi kemerdekaan hingga saat sekarang ini telah banyak pengalaman yang diperoleh bangsa ini tentang kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), pedoman acuan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara itu adalah nilai-nilai dan norma-norma yang terdapat dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Akan tetapi masyarakat sudah tidak melihat dari aspek berbangsa dan bernegara tersebut bahkan sering terjadi suatu “tawuran” antar mahasiswa atau antar kelompok yang disebabkan oleh masalah- masalah yang sederhana tetapi manusia memiliki cara berfikir yang berbeda dan memiliki ego yang berbeda, mereka menganggap menyelesaikan suatu masalah dengan perkelahian adalah suatu cara yang paling benar bukan cara musyawarah yang hanya mengandalkan omongan saja.

Sedangkan pengertian “persatuan dan kesatuan” sendiri adalah “bermacam-macam corak yang beraneka ragam menjadi satu kesatuan yang utuh serta menjalin kompakan dengan menghargai keberagaman ,baik keberagaman pendapat, suku , agama, ras ,budaya dan lain-lain”

Segala sesuatu yang kita nikmati keberadaannya kita terima begitu saja tanpa membayangkan betapa sulitnya meraih, antara lain bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, kemerdekaan, dan pembangunan-pembangunan yang kita nikmati saat ini. Maka, tanggung jawab generasi saat ini adalah bagaimana mempertahankan apa yang telah ada dan jauh lebih penting lagi mengembangkannya. Untuk mengemban misi itu, kesatuan dan persatuan amat dibutuhkan mengingat begitu banyaknya rintangan-rintangan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Masalah persatuan dan kesatuan bangsa bukan hanya diperlukan pada saat bangsa Indonesia menghadapi kekuasaan asing saja, melainkan terus diperlukan hingga sekarang, agar kemerdekaan bangsa dan negara yang berhasil dicapai oleh para pendahulu kita tidak digoyah dan hancur di tangan kita. Persatuan dan kesatuan menjadi obat penenang keonaran dan kekicruhan kondisi bangsa, sekaligus menjadi harga mati yang harus senantiasa dikedepankan dan dijaga dengan baik Begitu juga dengan nilai moralitas sebagai pembatas dari perbuatan tidak waras.

“Persatuan dan kesatuan yang dibangun bangsa Indonesia bukanlah uniformasi, dan juga bukan untuk meniadakan kemajemukan masyarakat. Karena itu, harus didasari bahwa persatuan dan kesatuan nasional yang kita inginkan adalah persatuan dan kesatuan yang tetap menghargai pluralisme dan sekaligus menghormati dan memelihara keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia. Atau, dengan kata lain, kita tetap menginginkan adanya Bhinneka Tunggal Ika,” Dan kemajemukan masyarakat bukanlah merupakan hambatan atau kendala bagi penguatan persatuan dan kesatuan bangsa, bahkan kemajemukan merupakan potensi dan kekuatan yang amat kaya untuk memajukan bangsa dan negara.

Bangsa Indonesia memiliki banyak ragam suku, sudah sepatutnya lah kita bangga akan hal ini, dan tidak perlu memperdebatkan hal-hal kecil. Dan juga harus mempunyai rasa saling memiliki dan menghargai satu sama lain baik itu dari bahaasa, budaya, ras, dan sebagainya. Dan untuk mewujudkan itu semua harus adanya keselarasan didalam pengaplikasian tujuan kita semua. Seperti halnya semboyan kita yaitu “Bhineka Tunggal Ika” Lantas kenapa kita begitu sulit untuk mewujudkannya? Karena yang tadi tidak addanya keselarasan tujuan.

10 Hal Yang Patut Anda Ketahui Dari Asal-Usul Nama Indonesia

Jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan, nama Indonesia sudah berseliweran dalam berbagai aktivitas politik kaum pergerakan: rapat akbar, aksi massa, pawai, famplet, koran, pemogokan, risalah-risalah, dan lain sebagainya.

Kapan nama Indonesia pertamakali dipergunakan? Siapa sang penemunya? Dan bagaimana nama tersebut diadopsi menjadi nama sebuah nation dan negara? Mungkin diantara kita masih ada yang belum mengetahuinya. Maklum, pelajaran sejarah di sekolah-sekolah tidak begitu serius memberitahu kita.

Padahal, mengenal sejarah bangsa itu penting. Apalagi sejarah nama bangsa dan negara kita. Ingat, Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terkemuka Indonesia yang banyak menulis novel sejarah, pernah bilang: “Kalau orang tak tahu sejarah bangsanya sendiri –tanah airnya sendiri– gampang jadi orang asing di antara bangsa sendiri.”

1. Nama “Indonesia” pertamakali muncul di tahun 1850, di sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang terbit di Singapura. Penemunya adalah dua orang Inggris: James Richardson Logan dan George Samuel Windsor Earl. Saat itu, nama Hindia—nama wilayah kita saat itu—sering tertukar dengan nama tempat lain. Karena itu, keduanya berpikir, daerah jajahan Belanda ini perlu diberi nama tersendiri. Earl mengusulkan dua nama: Indunesia atau Malayunesia. Earl sendiri memilih Malayunesia. Sedangkan Logan yang memilih nama Indunesia. Belakangan, Logan mengganti huruf “u” dari nama tersebut menjadi “o”. Jadilah: INDONESIA.

2. Nama Indonesia kemudian dipopulerkan oleh seorang etnolog Jerman, Adolf Bastian. Dia mempopulerkan nama Indonesia melalui bukunya, Indonesien Oder Die Inseln Des Malayischen Archipelsdan Die Volkev des Ostl Asien. Bastian sendiri mengunjungi Indonesia empat kali. Di bukunya, Bastian menggunakan kata Indonesia untuk merujuk pulau besar—Jawa, Sumatera, Borneo (Kalimantan), Celebes (Sulawesi), Molukken (Maluku), Timor, hingga Flores—dan gugusan pulau-pulau yang mengitari pulau tersebut.

3. Penjajah Eropa, baik Belanda maupun Portugis, menamai negeri kita ini: India. Namun, agar tidak sama dengan nama India, maka ditambahi huruf ‘H’ di depannya menjadi: Hindia. Di bawah penjajahan Belanda, negeri kita disebut Nederlandsch-Indie, yang berarti ‘Hindia kepunyaan Belanda’. Di bawah penjajahan Portugis, namanya ‘Hindia kepunyaan Portugis’. (Pramoedya Ananta Toer, Angkatan Muda Sekarang, 1999).

4. Tahun 1913, Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hajar Dewantara mendirikan Kantor Berita untuk bumiputera di Den Haag, belanda. Namanya: Indonesische Persbureau, disingkat IP. Saat itu Ki Hajar sedang menjalani pembuangan di negeri Belanda akibat aktivitas politiknya di tanah air.

5. Sebelumnya, di tahun 1912, Ki Hajar bersama dua kawannya, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangkukusumo, mendirikan partai politik bernama Indische Partij (IP). IP merupakan organisasi politik pertama yang terang-terangan memperjuangkan kemerdekaan Hindia—terpisah dari kolonialisme Belanda. Saat itu, IP mengusulkan agar nama negeri kita ini adalah Hindia. Slogan IP yang terkenal: Hindia untuk Hindia! Sayang, usulan IP ini kurang berterima luas di kalangan kaum pergerakan.

6. Pada bulan Februari 1922, para pelajar Indonesia di negeri Belanda sepakat mengadopsi nama Indonesia. Mereka mengubah nama organisasinya dari Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging. Kemudian, di tahun 1924, koran organisasi ini, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Setahun kemudian, giliran nama Indonesische Vereeniging resmi diubah menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

7. Di tanah air, organisasi politik yang pertama sekali menggunakan nama Indonesia adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Itu terjadi pada tahun 1924. PKI sendiri berdiri tanggal 23 Mei 1920, dengan nama Perserikatan Komunis Hindia. Baru pada bulan Juni l924, melalui sebuah Kongres di Weltevreden, Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia.

8. Pada tahun 1927, Soekarno bersama Tjipto Mangunkusumo serta kawan-kawannya di Algemene Studieclub mendirikan gerakan politik nasionalis bernama Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). Setahun kemudian, Perserikatan Nasional Indonesia berganti nama menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Soekarno dan PNI punya kontribusi besar dalam mempopulerkan nama Indonesia di kalangan rakyat jelata: petani, buruh, dan kaum melarat lainnya.

9. Pada tahun 1928, Kongres Pemuda Indonesia ke-2 mengikrarkan ‘satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa: INDONESIA”. Sejak itulah Indonesia sebagai nama dari sebuah negeri yang diperjuangkan makin berterima luas di kalangan kaum pergerakan dan rakyat banyak. Dua tahun sebelumnya, Wage Rudolf Supratman menciptakan lagu berjudul “Indonees, Indonees”, yang kemudian di tahun 1944 diubah menjadi “Indonesia Raya”. Lagu itu diperdengarkan tanpa lirik oleh WR Soepratman di Kongres Pemuda Indonesia ke-2 di gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106, Jakarta, tahun 1928. Sejak itulah cita-cita “Indonesia Raya” bergema di hampir semua pulau-pulau sepanjang Semenanjung Malaya hingga Papua. Tahun 1937, di Malaya (sekarang Malaysia), berdiri organisasi nasional bernama Kesatuan Melayu Muda (KMM). Dalam programnya, KMM menyatakan ingin mempersatukan Malaya ke dalam satu ikatan dengan ‘Indonesia Raya’.

10. Tetapi Pramoedya Ananta Toer kurang setuju dengan nama Indonesia. Menurutnya, penggunaan nama itu kurang politis dan ahistoris. Kata Pram, Indonesia berarti kepulauan India; belum keluar dari cara kolonialis menamai negeri kita. Pram sendiri mengusulkan dua nama yang dilahirkan oleh sejarah bangsa ini, yaitu Nusantara dan Dipantara. Nusantara muncul semasa dengan Majapahit, yang berarti: kepulauan Antara (dua benua). Sedangkan Dipantara muncul di era Singasari, yang berarti: Benteng Antara (dua benua).

Rudi Hartono
(BerdikariOnline)

Sejarah Kelam Tragedi Trisakti 12 Mei 1998

Setelah Soekarno diturunkan dan dicabut kepresidenannya pada tanggal 12 Maret 1967, Soeharto mengambil alih posisi presiden Indonesia. Pada masa pemerintahannya, Soeharto amat sangat mengekang kebebasan berpendapat hingga melarang adanya bentuk protes apapun yang dilakukan oleh mahasiswa. Pada tahun 27 Juli 1996, pihak bersenjata menyerang markas PDI di Jakarta Pusat. Pada masa itu, Megawati Sukarno putri yang diangkat menjadi ketua partai dinilai berbahaya oleh pemerintahan Orde Baru. Pada 29 Mei 1997, pemilu dilakukan dan dimenangkan oleh Golkar dengan 74% suara. Pemilu ini dinilai telah dicurangi dan menyebabkan kemarahan publik. Hal ini berujung pada salah satu catatan kelam negara kita, tragedi Trisakti, 12 Mei 1998.

Sejarah Tragedi Trisakti 12 Mei 1998
12 Mei 1998 merupakan salah satu dari beberapa rangkaian kerusuhan yang terjadi di Indonesia mengikuti dilantiknya Soeharto setelah tujuh tahun berturut-turut pada bulan Maret di tahun yang sama. Yang membuat rakyat marah kemungkinan adalah karena Soeharto berseru tentang reformasi politik dan ekonomi, tapi pada kenyataannya Kabinet Pembangunan VII – kabinet buatan Soeharto pada saat itu berisi anggota keluarga dan kroni-kroni Soeharto, termasuk anak didiknya, Bacharuddin Jusuf Habibie sebagai wakil presidennya.

Sebelum terjadi kerusuhan di Jakarta, Medan telah terlebih dahulu menyalakan api kebencian akan pemerintahan Soeharto. Pada awal Mei dimulai, para pelajar sudah mulai menjalankan aksi demonstrasi di kampus-kampus sekitaran Medan selama dua bulan. Jumlah pelajar yang mengikuti aksi demonstrasi ini terus bertambah seiring makin lantangnya panggilan dari masyarakat untuk reformasi total. Hal yang membuat mahasiswa semakin berang adalah tewasnya salah satu mahasiswa pada 27 April yang kesalahannya dilemparkan pada pihak berwajib yang melemparkan gas air mata ke kampus dan mencapai puncak pada tanggal 4 hingga 8 Mei saat pemerintah memutuskan menaikkan harga minyak sebesar 70% dan 300% untuk biaya listrik.

Pada tanggal 9 Mei, presiden Soeharto terbang menuju group of 15 summit di Kairo, Mesir. Sebelum berangkat, Soeharto berkata pada masyarakat untuk menghentikan protes mereka dan seperti yang dituliskan di Suara Pembaruan, bahwa ia menyatakan kalau hal ini terus berlanjut, tidak akan ada kemajuan di Indonesia. Soeharto yang awalnya dijadwalkan untuk kembali ke Jakarta pada 14 Mei, pulang lebih cepat saat kerusuhan di Jakarta mencapai titik kritis, sebuah kejadian yang akan mencatat sejarah kelam tragedi Trisakti 12 Mei 1998 di Indonesia.

Kericuhan di Jakarta mencapai puncaknya pada tanggal 12 Mei ketika pihak kepolisian dan tentara mulai menembaki mahasiswa-mahasiswa yang melakukan aksi protes damai. Tragedi ini menewaskan 4 orang, Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Belasan orang juka terluka sebagai hasil dari tragedi ini. Penembakan protestan tanpa senjata ini menyebabkan kerusuhan yang sebelumnya sudah terjadi menjadi tambah marak di seluruh Indonesia, dan pada akhirnya melengserkan Soeharto dari kursi kepemimpinannya.

Kronologi Tragedi Trisakti
Protes yang menjadi kejadian kunci sejarah kelam tragedi Trisakti 12 Mei 1998 dimulai pada pukul 10 siang dan diikuti lebih dari 6000 mahasiswa, staff, dan dosen yang berkumpul di lapangan parkir universitas Trisakti. Hal pertama yang mereka lakukan adalah menurunkan bendera Indonesia menjadi setengah tiang yang menyimbolkan duka atau kesengsaraan. Baru ketika hari mulai siang, para protestan ini bersiap-siap untuk melakukan long march menuju gedung DPR/MPR. Belum jauh dari kampus, mereka dihentikan oleh oleh pihak kepolisian, tepatnya di depan kantor walikota Jakarta Barat. Sebagai respon dari penghentian mereka, para protestan ini kemudian menduduki jalan S. Parman dan menghalangi jalur lalu lintas. Setelah bantuan dari pihak militer datang untuk membantu kepolisian, dekan fakultas hukum, Adi Andojo, berhasil membujuk para demonstran kembali ke kampus. Pada saat itu, pasukan pengamanan yang ada di lokasi adalah Polisi Brimob, KOSTRAD, dan Kodam Jaya. Mereka dipersenjatai dengan perisai huru-hara, gas air mata, Steyr AUG, dan Pindad SS-1.

Ketika waktu menunjukkan pukul 5 sore, hampir seluruh demonstran telah kembali ke area kampus Trisakti. Sesaat setelah kembali inilah, cemoohan terdengar dari kumpulan polisi dan tentara, diikuti dengan rentetan tembakan yang menyebabkan para demonstran panik dan tercerai berai. Kekacauan ini memakan dua korban jiwa, yaitu Elang Mulya Lesmana dan Hendriawan Sie yang saat itu sedang berusaha masuk ke ruangan rektorat di gedung Dr. Syarif Thayeb. Korban jiwa kembali jatuh ketika para mahasiswa yang belum mengungsi berkumpul di sebuah ruangan terbuka. Tentara-tentara yang diposisikan di atap gedung terdekat terus menembak, melukai banyak mahasiswa dan mengambil nyawa dari Heri Hartanto dan Hafidin Royan. Penembakan baru berhenti pada pukul 8 malam, dan pihak kampus bergegas membawa mereka yang terluka menuju rumah sakit terdekat.

Sejarah tragedi Trisakti 12 Mei 1998 ini seperti disebutkan di atas memakan 4 korban jiwa yang semuanya merupakan mahasiswa dari universitas Trisakti. Keempat mahasiswa ini kemudian oleh Bacharuddin Jusuf Habibi yang naik menggantikan Soeharto sebagai presiden diberi julukan sebagai pahlawan reformasi, karena tewasnya mereka secara tidak langsung mengobarkan api reformasi di hati masyarakat-masyarakat Indonesia yang lainnya. Meski begitu, sebelum presiden Soeharto turun, sempat ada kerusuhan yang jauh lebih besar di Jakarta yang menewaskan 1200 orang tewas yang kebanyakan dikarenakan oleh terjebaknya orang-orang itu di dalam gedung yang dibakar. Pada saat itu, penjarahan terjadi dimana-mana, dan warga Indonesia keturunan Tiongkok menjadi korban penganiayaan dan berbagai tindakan lainnya oleh masyarakat yang menjadi buas.

Begitulah tragedi 18 tahun yang lalu. Sejarah memang tidak untuk dilupakan begitu saja, seperti apa kata Bung Karno, “JASMERAH !!”.

Sumber : PortalSejarah.com

Atensi dan Eksistensi penyebab kematian sang proklamator

oldSeseorang menyukai kehidupan jika banyak orang yang berlaku baik dan memperhatikan dirinya,tidak diabaikan atau hanya dianggap sebagai angin lalu saja.Mengherankan jika media massa melaporkan perihal tewasnya seorang wanita muda yang gantung diri , setelah keluarga atau rekan – rekanya tidak lagi memberikan eksistensi pada perempuan tersebut.

Perempuan malang tersebut bunuh diri, karena selalu dianggap remeh, diabaikan dan tidak pernah dimintai tanggapanya.Hal itu tentu telah membuatnya eksistensinya tidak dianggap dan keberadaanya diabaikan oleh lingkungan sekitar. Maka tidak mengherankan seseorang yang ‘dicuekin’, karena merasa dirinya tidak berguna akan melakukan tindakan bunuh diri atau mengurus diri dan kesehatanya dengan baik.Baginya buat apa tetap hidup jika dianggap tidak pernah eksis.

Hal tersebut juga menimpa Presiden pertama republik Indonesia Ir. Soekarno, dilansir dari buku ‘IndonesiaXFiles’ penyebab kematian Soekarno dikarenakan beliau merasa telah dikucilkan dan tidak dianggap sehingga membuatnya merasa tidak layak untuk meneruskan hidup. Seperti yang dijelaskan oleh buku tersebut,pernyataan istri pertama presiden RI, Nyona Ratna Sari Dewi kepada media massa yang mengatakan bahwa Seokarno wafat karena diberika obat tidur dan beranggapan bahwa suaminya tersebut telah diracuni.

Pernyataan beliau dianggap sangat tidak tepat karena beliau bukan dokter sehingga secara keilmuan beliau tidak memiliki otoritas pengetahuan dan kewenangan untuk mengatakan bahwa tersebut kepada media. Terlebih media mempunyai motto berita yang baik adalah berita tentang hal – hal menyimpang maka dari itu pernyataan dari istri presiden RI tersebut sungguh kontreversial karena semakin mengucilkan Bung Karno

Keadaan Soekarno saat itu memang sangat memprihatinkan, seperti yang diungkapkan oleh dokter, bahwa ginjal beliau hanya berfungsi 25 persen saja dan perawatan yang beliau jalani sangat tidak memadai. Ditambah dengan isolasi Alhmarhum kepada rakyatnya sangat mengganggu sehingga mental dan fisik penggagas pancasila tersebut ambruk.

Dapat dijelaskan bahwa tindakan pengucilan perlakuan yang tidak manusiawi serta masalah atensi dan eksitensi mempengaruhi kondisi kesehatan semakin menjadi buruk, sehingga hal tersebut semakin memperjelas tewanya tokoh nasionalis yang tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Bung karno yang mampu berpidato berjam – jam tanpa membuat pendengarnya menjadi bosan, telah secara dramatis dibuat hilang dan di isolasi dari rakyatnya tanpa penjelasan yang jelas serta transparan, sungguh akhir yang tragis untuk seorang pejuang kemerdekaan.

Pengucilan diri berarti menghilangkan eksistensinya. Padahal, eksistensi tersebut merupakan sumber atau tenaga bagi seseorang untuk tetap dapat bertahan hidup dan berjuang. Sikap aparat yang bertugas menjaga bung karno dan memelihara kesehatanya ternyata kurang menunjunkan atensi yang besar dan hal itu yang membuat sang proklamato hancur.

BungKarno, selain tidak mendapatkan perawatan medis yang memadai untuk penyakit jantung dan ginjalnya, ditambah dengan kurangnya atensi serta dihilangkanya eksistensi selama menjalani tahanan rumah, tak perlu diragukan menjadi muara kematiannya. Dengan kata lain perlakuan orde baru terhadap bung karno juga memberikan andil atas kematian bapak proklamator tersebut.

Dapat disimpulkan.Bahwa, kondisi kesehatan yang buruk tanpa perawatan yang memadai, tidak adanya atensi serta pudarnya eksistensi menjadi penjelasan rasional atas kematian Presiden pertama Republik Indonesia tersebut.

PENULIS : Anak bangsaold

 

Sinergikan Pancasila dengan tridharma perguruan tinggi

Serikat Mahasiswa – Pancasila sebagai falsafah bangsa tidak lebih seperti pajangan saat ini, karena semakin jauh dengan nilai – nilai berkebangsaan.Hal itu terlihat dari Rezim pemerintahan hari ini yang menguntunkan ‘Neoliberalisme’ seperti Amerika dan China.
Semakin jauh pancasila dari sistem kebangsaan disebabkan, karena kurangnya penanam nilai – nilai falsafah bangsa tersebut sedari dini.Tentunya penanaman pancasila harus dimulai dari kontes terkecil yaitu dikehidupan pribadi dahulu.
Penanaman tersebut bisa dicontohkan saat kita menjadi mahasiswa.Selayak Kaum intelektual seharusnya mahasiswa bisa memaksimalkan masa – masa ke emasannya dengan pengamalan Tridahrama Perguruan Tinggi yang mencakup, Pendidikan ,Penelitian , pengabdian masyarakat.Dan semuanya nilai – nilai terkandung dalam setiap sila di Pancasila.
Selama ini pengaplikasian mahasiswa dalam Tridharma perguruaan tinggi masih terbilang jauh dalam wujud pancasila, karena masih hanya sebatas pengabadian masyarakat dalam bentuk Kuliah Kerja nyata ( KKN) dan tidak dalam bentuk penyadaran kepada masyarakat, karena hanya bertingkah seperti ‘sinterkas’ yang datang lalu pergi tanpa bentuk penyadaran kepada warga desa.

Seharusnya mahasiswa bisa meneruskan estafet ‘ founding father ‘ yang bertujuan untuk meluruskan tidak hanya menuruskan.Dan semua itu harus berpijak pada tridharma perguruan tinggi, jika ingin mensinergikan penanam karater pancasila dalam diri mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa.

karena hari ini Indonesia kekurangan pemimpin yang mampu menjadi teladan bagi masyarakat, dan mahasiswa seharusnya bisa menjadi teladan bagi masyarakat dengan mensinergikan pancasila dan tridahrma perguruan tinggi.

Oleh : Anak bangsa

 

Berdikari Ekonomi Dengan Menanam Pancasila Sejak Dini

 

Konsep Trisakti yang digagas oleh Ir. soekarno seperti tinggal sejarah di era ‘modernisasi’. Konsep yang mencakup berdaulat dalam berpolitik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian secara budaya ini telah melenceng dari falsafah bangsa pancasila.

Penanaman nilai-nilai pancasila wajib dilakukan, terlebih jika ingin berdikari dalam hal ekonomi seperti yang digagas oleh bung Karno. Dalam sila-sila yang terdapat di pancasila amat berkaitan dengan pengwujudan berdikari ekonomi di bumi pertiwi.

Produk-produk kapatalisme tidak bisa dihindarkan, karena memang kebutuhan-kebutuhan di zaman sekarang tidak lepas dari ciptaan asing. Berdikari yang berarti berdiri di kaki sendiri ini memang sulit kita lakukan jika tidak kita mulai melalui perbaikan mental sebagai generasi penerus bangsa. Sebab berdikari tidak bicara soal materi atau ekonomi saja.

Mental yang dimaksud adalah, bagaimana kita seharusnya menanamkam nilai – nilai pancasila itu untuk membentengi kita dalam membeli produk – produk kapatalisme dan menjadikan pancasila sebagai ‘kontrol Mural’ dalam lingkaran berkehidupan, karena semua dimulai dari langkah kecil sebelum melakukan perubahan besar.

Pancasila seharusnya bisa menjadi rem untuk penolakan kebijakan pemerintah yang amat sangat menguntukan asing.Maka dari itu kita sebagai generasi bangsa harus menyuarakan hak tersebut dan menjadikan pancasila sebagai ‘kontrol mural’ dalam berkehidupan sebagai jalan mewujudkan Berdikari Ekonomi yang dicita – citakan oleh Soekarno.

Oleh : Anak Bangsa

Lemahnya Kesadaran Masyarakat Terhadap Lingkungan

Setiap makhluk hidup pada hakekatnya saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Begitu pula hubungan antara manusia dengan alam yang sangat mempengaruhi dalam keberlangsungan hidup.

Kini, kesadaran manusia seakan luntur untuk peka terhadap lingkungan sekitar. Misalnya, seseorang yang membuang sampah sembarangan, merokok di tempat umum, menebang pohon, dan sebagainya. Manusia sekarang kebanyakan tidak peduli apa dampak  selanjutnya dari apa yang telah mereka lakukan.

Pasalnya, lingkungan sangat berperan penting dalam kehidupan manusia. Saat ini, cuaca di Jakarta saat siang hari terasa sangat begitu panas, lalu manusia-manusia ini mengeluh akan teriknya matahari. Padahal, cuaca panas tersebut disebabkan oleh ulah manusianya sendiri. Mereka banyak menebang pohon untuk kepentingan pribadi.

Seperti menghapus lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk membangun gedung-gedung pencakar langit. Tentu hal ini mengakibatkan ekosistem alam menjadi rusak. Manusia seperti ini sudah dikuasai oleh keserakahan. Mereka seperti keranjingan harta, menebang pohon terus menerus dengan membabi buta. Tapi, lucunya mereka selalu mengeluh tentang cuaca alam yang garang. Padahal, hal ini lagi-lagi disebabkan dari ulah nakal mereka.

Sementara itu, manusia adalah makhluk ciptaan Allah, Tuhan Yang Maha Esa dengan struktur dan fungsi yang sangat sempurna bila dibandingkan dengan mahkluk Tuhan lainnya. Manusia juga diciptakan sebagai makhluk multidimesional, memiliki akal pikiran dan kemampuan berinteraksi secara personal maupun sosial. (Burhan bungin, 2009).

Kendati demikian, seharusnya kita sebagai manusia wajib menjaga lingkungan. Menanam rasa kemanusiaan, kecintaan terhadap sesama, dan kecintaan kepada lingkungan/alam sebagai sumber kehidupan.

-Rizki Mahasiswa Jurnalistik IISIP Jakarta